Kalah Perang
15 Dec 2008
Minggu sore….
Di sebuah taman kota disalah satu sudut di kota Jogja. Cukup lengang. Tak seperti minggu minggu biasanya yang ramai dipenuhi pasangan muda-mudi sedang berdua-duaan. Mungkin karena cuaca yang mendung membuat mereka enggan keluar rumah takut kehujanan ditengah jalan.
Tapi di sudut sana, disebuah bangku taman dibawah pohon flamboyant, nampak sepasang muda-mudi, Manki dan Lelly, sedang duduk dengan muka yang nampak serius. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, yuk kita intip aja kencan mereka…
“Sudahlah Mas jangan paksa aku terus, emang kurang jelas jawabanku?” Lelly mengibaskan tangan Manki yang berusaha menggenggam tangannya.
Wajah Manki berkerut, membuat wajahnya semakin berantakan. Dia mendesah perlahan sambil menatap Lelly dengan penuh permohonan, “Aku kurang apa sih Lel? Aku bener-bener sayang sama kamu, aku gak akan mengecewakanmu. Percayalah…”
“Tapi Mas…” Lelly menatap bola mata Manki yang meredup. Beberapa helai daun flamboyan jatuh tertiup angin tepat di rambutnya Manki yang di potong ala Mohawk lalu di highlight warna kemerahan. Uh funky men…
Manki kembali menggenggam tangan Lelly. Kali ini Lelly tak bisa menghindar. Dibiarkan tangan lembutnya jatuh dalam genggaman tangan Manki yang kasar. Maklumlah Manki kan kernet angkot jurusan Surabaya – Bangkalan. Ada gak ya? Hehehe.
“Tapi kenapa Lel? Apakah karena aku hanya seorang kernet angkot sehingga kau menolak cintaku? Apakah karena aku orang miskin? He?! Tak bela-belain aku nabung tiap hari agar aku bisa ke Jogja menemuimu, tapi setelah sampai disini aku harus menerima jawabanmu yang sungguh tak kuharapkan. Kau bener-bener tega sama aku ya….”
“Aku tau mas Manki melakukan semua ini untuk Lelly, tapi dari awal kan aku dah bilang, bahwa aku mengganggap Mas situ sebatas kakak buat aku. Kita memang akrab di Mig33, mungkin malah dibilang mesra, tapi sebelumnya aku dah wanti-wanti jangan sampai Mas beranggapan lain dengan sikapku itu. Sungguh bukan karena Mas hanya kernet angkot atau orang miskin, tapi ini soal perasaan Mas… perasaan dan hati yang berbicara…” Lelly mengalihkan pandangannya kearah rerimbunan mawar yang bergoyang-goyang tertiup angin. Sesekali dia mencoba menarik tangannya, tapi genggaman tangan kasar Manki yang biasa gelantungan di angkot terasa kuat menelannya.
“Ahh perasaan? Kita kan bisa memulainya Lelly. Aku yakin bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku. Aku akan datang ke dunia nyatamu bukan hanya di dunia maya. Aku akan membuatmu bahagia. Ahh…” Manki kembali mendesah dengan berat. Ingin sekali dia teriak keras. Bangkalan… bangkalan…!!
“Sekali lagi aku bilang Mas, masalahnya bukan itu…”
“Lalu apa??”
“Aku sudah punya seseorang yang aku cintai Mas…” Lelly kembali menatap Manki berusaha meyakinkan dengan tatapannya yang dalam. “Dia sangat menyayangi aku, aku pun begitu. Kami bagai Rama dan Shinta, seperti Romeo dan Juliet. Dan aku gak bisa berpindah ke lain hati.”
“Ah kau bohong. Aku sudah nanya temen-temen kamu katanya kamu masih jomblo. Pasti kamu lagi bikin alasan untuk menolakku kan? Iya kan?” Manki menggoncang pundak Lelly dengan agak kasar. Sebenarnya Lelly pengin membalasnya dengan membanting pria ngeyelan didepannya itu. Tapi dia gak tega. Kasihan sudah jauh-jauh dari Madura ke Jogja, mosok mau dibanting-banting.
Lelly melepaskan tangan Manki dari pundaknya, “ENggak Mas, aku gak bohong. Temen-temen memang gak ada yang tahu tentang hubungan kita dan aku sengaja tidak memberitahukan ke orang lain. Kita gak mau hubungan kita ini didengar wartawan lalu tersebar media-media infotainment di tanah air. Kita pengin tenang menjalani hubungan.”
The News:
Bisnis Pulsa GSP | MaPuC | FreshBlog | Mig33 Tools | SEO Market | Bisnis Pulsa GSP |








Silakan Komentar